Pages

Tuesday, 7 June 2011

GOOD LABORATORY PRACTICE



PROSEDUR LABORATORIUM SESUAI
GOOD LABORATORY PRACTICE (GLP)    
Good Laboratory Practices (GLPs) adalah pedoman yang efektif yang diperlukan  untuk menetapkan manajemen dengan menggunakan sarana yang dapat digunakan untuk pengawasan laboratorium dan menetapkan pengendalian dengan menggunakan pedoman pengukuran   untuk mengevaluasi semua usaha pengendalian tersebut.
1. Pengambilan dan Penanganan Sampel
1. Laboratorium harus mempunyai kebijakan dan prosedur
yang mencakup keseluruhan aspek teknik pengambilan
sampel dan aspek-aspek keselamatan biologis.
2. Laboratorium harus mempunyai pedoman penyiapan pa­sien, pengambilan sampel, pelabelan, pengawetan dan transportasi.
3. Instruksi yang terdokumentasi harus tersedia untuk setiap
informasi pengujian terkait dengan tipe sampel yang se­suai
dengan pengujian, tem­peratur pada saat pengam­bilan dan
jumlah/volume sam­pel yang diperlukan.
4. Laboratorium harus mem­pu­nyai prosedur untuk identifikasi
sampel dan pemba­gian sub sampel termasuk persyaratan
pelabelan, tanggal dan waktu pendaftaran sampel dan
permintaan pengujian.
5. Instruksi yang terdokumentasi juga harus tersedia dan dapat
memberikan penjelasan kepada pasien untuk melakukan
pengambilan sampel sendiri seperti urin, feses dan semen.
6. Laboratorium harus mempunyai kebijakan dan prosedur
untuk transportasi dan penanganan sampel termasuk
temperatur yang dipersyaratkan, perlindungan terhadap cahaya, penutupan wadah, lamanya time lag yang diperbolehkan sebelum
pra perlakuan (misalnya: sentrifugasi, deproteinasi) atau
penetapan (assay) dan kon­disi penyimpanan.
7. Prosedur untuk menghindari resiko tertukarnya sampel atau
sub sampel harus ter­sedia di laboratorium.
8. Laboratorium harus mempu­nyai prosedur yang rinci
mengenai tata cara pengiriman sampel ke laboratorium lain, yang
mencakup pra perlakuan dan tindakan pencegahan, transportasi
dan formulir yang diperlukan.
2. Fasilitas Fisik
1. Laboratorium harus mempunyai ruangan yang cukup untuk
melaksanakan pekerjaan dan untuk menyimpan peralatan,
reagensia, media dan bahan lainnya.
 2. Laboratorium harus merupakan tempat/lingkungan yang aman
untuk bekerja bagi personelnya dan untuk pasien yang dilayani.
3. Laboratorium harus didisain untuk efisiensi dari kegiatannya
dan untuk kenyamanan personel laboratorium dan pasien. Disain
dari fasilitas laboratorium harus mempertimbangkan resiko
kecelakaan dan penyakit yang mungkin timbul karena pekerjaan
laboratorium.
4. Lingkungan di dalam laboratorium harus sesuai untuk
efektivitas kinerja dari kegiatan pengujian.
5. Tempat kerja yang terpisah harus tersedia untuk kegiatan sebagai berikut:
a. Pencucian peralatan gelas, pemurnian reagensia dan pelarut;
b. Penyiapan media;
c. Sampel yang terkontaminasi dengan intensitas yang tinggi
harus dianalisis di tempat kerja yang terpisah, misalnya dalam
biohazard cabinet;
d. Instrumen analisis harus di­tempatkan di tempat terpisah yang
diberi pendingin ruangan;
e. Fasilitas penyimpanan yang sesuai harus tersedia untuk:
1)  Penyimpanan sampel sebelum, selama dan setelah analisis;
2)  Penyimpanan bahan yang digunakan dalam analisis;
3)  Penyimpanan yang aman untuk limbah berbahaya maupun
tidak sebelum dimusnahkan.
f. Pencegahan kontaminasi terhadap personel dan pakaian kerja
laboratorium.

6. Meja kerja harus disediakan untuk memfasilitasi kegiatan
pengujian. Tempat kerja khusus harus juga tersedia untuk
pengujian yang mempersyaratkan kondisi khusus.
3. Reagensia
1. Seluruh personel laboratorium harus memahami tanggung
jawabnya dalam penggunaan reagensia, solven, media kultur,
bahan acuan dan peralatan laboratorium terkait de­ngan jenis
pengujian yang di­lakukan.
2. Penyimpanan untuk seluruh reagensia dan media kultur harus
dilakukan sesuai dengan persyaratan yang direkomendasikan oleh
pemanu­faktur.
3. Spesifikasi (grade) reagensia kimia, solven dan gas yang
digunakan harus sesuai de­ngan yang dipersyaratkan oleh metode
pengujian yang diacu. Semua wadah reagen­sia harus diberi label
dan di­tutup secara rapat. Label asli dari pemanufaktur harus digu­nakan.
Apabila hal ini tidak mungkin dilakukan, label ha­rus mencakup informasi
mi­nimal: nama reagensia, tang­gal penerimaan, konsen­trasi, solven
(apabila bukan air), peringatan khusus terkait de­ngan bahaya dan tanggal kadaluarsa.

No comments: